Minggu, 05 Juni 2016

Mengapa Indonesia Mengalami Krisis Budaya Membaca? Inilah sebabnya

Perkembangan suatu Negara dapat dilihat dari segi pendidikan. Pendidikan suatu Negara mempengaruhi kualitas SDM yang ada. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas SDM yaitu dengan membaca. 

Budaya membaca sangat membantu untuk kemajuan SDM dan dunia pendidikan. Bukan tidak mungkin, jika negara yang mempunyai budaya membaca tinggi, memilki kesempatan maju yang lebih tinggi. 

Dan kalian tahu efek jika kita tidak pernah membaca??? Kita akan tertinggal dengan pengetahuan yang terus berkembang. Seperti yang sedang dialami oleh Negara kita. Indonesia mengalami krisis budaya membaca, dan hal tersebut berimbas pada kualitas SDM.

Mengapa Indonesia Mengalami Krisis Budaya Membaca? inilah sebabnya
sumber gambar : news.okezone.com
Pada perkembangan IPTEK sekarang ini, masyarakat Indonesia dihadapkan pada malasnya membaca. Kebanyakan pemuda kita terlena dengan kemajuan teknologi daripada membaca. 

Bisa kita ambil contoh, ketika di dalam bus atau di ruang tunggu, kita pasti menemui mereka sedang rajin bermain dengan gadget dibanding dengan membaca buku atau koran yang ada. Hal tersebut berbeda dengan Negara lain, misal di Jepang. Di Negara Jepang setiap masyarakat di manapun tempatnya selalu membawa buku, koran atau surat kabar untuk dibaca. 

Dari perbedaan budaya tersebut juga berdampak  besar dalam kemajuan dunia pendidikan. Indonesia sudah jauh tertinggal dengan Jepang. Hal tersebut dikarenakan budaya membaca di Indonesia masih sangat kurang. Banyak yang menyebabkan Indonesia mengalami krisis budaya membaca, antara lain :

Kurangnya dorongan atau sosialisasi tentang pentingnya  membaca.

Dalam hal ini setiap elemen bertanggung jawab mengingatkan, terutama dosen dan guru. Karena setiap murid atau mahasiswa akan tergerak membaca jika para pengajarnya memberi contoh tindakan bukan hanya teori. Hal tersebut seperti yang dikatakan Menteri pendidikan dan kebudayaan (MENDIKBUD) Anis Baswedan, “ Jika guru ingin siswanya membaca, maka gurunya juga harus membaca”.

Kurangnya koleksi atau perbendaharaan buku yang menarik dan edukatif.

Tidak bisa dipungkiri, seseorang pasti lebih tertarik membaca buku yang banyak pilihan dan menarik. Serta terkandung ilmu yang bermanfaat. Serta diberi kemudahan untuk mendapatkan buku tersebut terutama kepada masyarakat yang hobi membaca.

Sarana perpustkaan yang belum merata.

Sarana pendukung perpustakaan yang kurang lengkap, misal : wifi, meja dan kursi yang nyaman serta tempat yang luas.Sebenarnya bukan hanya perpustakaan ya yang berperan, tapi tempat di daerah masing-masing yang dapat digunakan untuk taman membaca.

Dari berbagai penyebab tersebut menunjukkan bahwa Negara kita perlu pembenahaan dalam pendidikan. Terutama budaya membaca. Karena berdasarkan data dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), pada tahun 2012, indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai 0,001. Yang artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang saja yang punya minat baca”,(sumber:kompasiana.com).

Untuk itu mari kita sebagai generasi muda supaya meningkatkan budaya membaca. Penulis juga berpendapat bahwa membaca merupakan kebutuhan pokok, yang harus dilakukan. Demi tercipta Indonesia yang gemar membaca. Dan semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menyadarkan kita akan pentingnya membaca untuk masa depan. Terima kasih.



EmoticonEmoticon