Pada perkembangan IPTEK sekarang ini, masyarakat Indonesia
dihadapkan pada malasnya membaca. Kebanyakan pemuda kita terlena dengan
kemajuan teknologi daripada membaca.
Bisa kita ambil contoh, ketika di dalam bus atau di ruang tunggu, kita pasti menemui mereka sedang rajin bermain dengan gadget dibanding dengan membaca buku atau koran yang ada. Hal tersebut berbeda dengan Negara lain, misal di Jepang. Di Negara Jepang setiap masyarakat di manapun tempatnya selalu membawa buku, koran atau surat kabar untuk dibaca.
Dari perbedaan budaya tersebut juga berdampak besar dalam kemajuan dunia pendidikan. Indonesia sudah jauh tertinggal dengan Jepang. Hal tersebut
dikarenakan budaya membaca di Indonesia masih sangat kurang. Banyak yang
menyebabkan Indonesia mengalami krisis budaya
membaca, antara lain :
Bisa kita ambil contoh, ketika di dalam bus atau di ruang tunggu, kita pasti menemui mereka sedang rajin bermain dengan gadget dibanding dengan membaca buku atau koran yang ada. Hal tersebut berbeda dengan Negara lain, misal di Jepang. Di Negara Jepang setiap masyarakat di manapun tempatnya selalu membawa buku, koran atau surat kabar untuk dibaca.
Dari perbedaan budaya tersebut juga berdampak besar dalam kemajuan dunia pendidikan.
Kurangnya dorongan atau sosialisasi
tentang pentingnya membaca.
Dalam hal
ini setiap elemen bertanggung jawab mengingatkan, terutama dosen dan guru.
Karena setiap murid atau mahasiswa akan tergerak membaca jika para pengajarnya
memberi contoh tindakan bukan hanya teori. Hal tersebut seperti yang dikatakan
Menteri pendidikan dan kebudayaan (MENDIKBUD) Anis Baswedan, “ Jika guru ingin siswanya membaca, maka gurunya juga harus membaca”.
Kurangnya koleksi atau perbendaharaan
buku yang menarik dan edukatif.
Tidak bisa
dipungkiri, seseorang pasti lebih tertarik membaca buku yang banyak pilihan dan
menarik. Serta terkandung ilmu yang bermanfaat. Serta diberi kemudahan untuk
mendapatkan buku tersebut terutama kepada masyarakat yang hobi membaca.
Sarana perpustkaan yang belum merata.
Sarana
pendukung perpustakaan yang kurang lengkap, misal : wifi, meja dan kursi yang
nyaman serta tempat yang luas.Sebenarnya bukan hanya perpustakaan ya yang
berperan, tapi tempat di daerah masing-masing yang dapat digunakan untuk taman
membaca.
Dari
berbagai penyebab tersebut menunjukkan bahwa Negara kita perlu pembenahaan
dalam pendidikan. Terutama budaya membaca. Karena berdasarkan data dari “United
Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), pada tahun 2012, indeks minat
membaca masyarakat Indonesia baru mencapai 0,001. Yang artinya, dari setiap
1.000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang saja yang punya minat baca”,(sumber:kompasiana.com).
Untuk itu
mari kita sebagai generasi muda supaya meningkatkan budaya membaca. Penulis
juga berpendapat bahwa membaca merupakan kebutuhan pokok, yang harus dilakukan.
Demi tercipta Indonesia yang gemar membaca. Dan semoga artikel ini bermanfaat
dan dapat menyadarkan kita akan pentingnya membaca untuk masa depan. Terima kasih.
Penulis :
M. Diyan Saifudin


EmoticonEmoticon